Pentingnya Travelling Bagi Milenial

0
151

Oleh Meilita Rinalti, Elvira Yolanda, Hayatusifa

Indahnya Indonesia digembar-gembori pemerintah. Logo Wonderful Indonesia dikampanyekan Kementrian Pariwisata melalui selain program acara stasiun televisi. Misalnya acara yang nama acaranya dijadikan tagline dan diucapkan berkali-kali. Sampai media sosial ramai membicarakan acara ini atau pemaknaannya. Para pembawa acaranya bahkan dibuat sebagai konten media, dilabeli hot atau digilai wanita. Pembicaran di warung kopi pun kadang menyinggung tentang ungkapan “anak gunung” atau “anak pantai” atau wanita cantik itu diukur dengan ketangguhannya mendaki gunung dan sebagainya.

Mendadak pariwisata dengan melancong atau travelling jadi bagian dari kehidupan. Jadi “gaya hidup”. Khususnya milenial. Berhasilnya kampanye travelling ini dapat pula dilihat dari beredarnya meme dengan isu asyiknya travelling, anak pantai atau anak gunung, serta tagline program stasiun televisi di media sosial. Selain itu media dibanjiri tips dan trik pilihan liburan dengan travelling atau melancong diembel-embeli pengantar, “setelah penat beraktivitas…” seolah travelling adalah jawaban absolut dari kelelahan berutinitas. Menurut neraca.co.id ketika masyarakat memandang liburan sebagai sebuah gaya hidup, maka itu menjadi sebuah kebutuhan yang tak terelakkan. “Banyak alasan orang kenapa mereka berlibur, seperti ingin menghabiskan waktu dengan keluarga, melakukan wisata budaya, berpetualang, memanjakan diri, dan bersantai,” jelas Harianto Gunawan, Direktur Visa Indonesia.

Menggaris bawahi ‘memanjakan diri dan bersantai’ maka diduga stress jadi penyebabnya. Tingkat stres meningkat diiringi perkembangan zaman, khususnya bagi generasi milenial yang memasuki usia produktif pada dewasa ini. Stres berdampak terhadap munculnya depresi dan turunnya kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari karena merasa kelelahan dengan rutinitas. Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2017, lebih dari 300 juta penduduk di dunia mengalami depresi tak teratasi.

Travelling dipilih sebagai salah satu jalan untuk ‘mencegah depresi’. Salah satu penelitian Wisconsin menunjukkan resiko depresi ditemukan pada orang yang melakukan liburan kurang dari dua tahun satu kali. Selain itu, penelitian lainnya dari University of Pittsburgh menunjukkan bahwa melakukan rekreasi atau liburan secara signifikan dapat meningkatkan emosi positif.

Melansir dari DetikTravel, menurut psikolog Efnie Indrianie, MPsi., liburan sangat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama yang sedang stres. Liburan adalah waktunya untuk me time. “Idealnya, liburan dilakukan minimal 2 kali setahun dengan lama waktu liburan 4-5 hari,” ujar Efnie.

Generasi milenial mengaggap dirinya layak melakukan travelling. Mereka diperkirakan secara bertahap akan menghabiskan lebih banyak dana untuk layanan wisata dengan kelompok usia lainnya selama 12 bulan ke depan, sebagaimana dilansir tirto.id. Pada 2020, generasi ini akan mewakili setengah dari semua perjalanan yang ada.

Seperti dikutip dari tirto.id, lembaga ThinkDigital.Travel mengatakan bahwa generasi milenial tidak mencari prestise dengan hal-hal material seperti merk mobil atau pakaian atau lainya. Sebaliknya, mereka mencari pengalaman. Sesuatu hal yang dapat memperkaya kehidupan mereka. Statistik menunjukkan bahwa 6 dari 10 dari mereka lebih suka menghabiskan uang mereka pada pengalaman daripada hal-hal material.

Hal yang sama diungkapkan pula oleh Dewi Rachmanita, mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2014, “Sejak kuliah aku berpikir kalau masa kuliah dan masa muda itu sebentar. Selain kegiatan kampus, gue juga perlu cari pengalaman lain, pelajaran hidup yang lain,”. Baginya makna travelling bergeser, yakni untuk melihat hal yang lebih esensi seperti pelajaran hidup yang bisa diambil dari masyarakat entah saat bertemu di kereta, di kapal, atau bahkan di lokasi. “Menurutku setiap perjalanan punya karakteristik dan ceritanya masing-masing dengan pelajarannya masing-masing,” lanjutnya.

ThinkDigital.Travel juga menambahkan, generasi milenial ini kemudian menjadi salah satu pilar dari industri turisme modern. Adi M. Fachrezi, salah satu mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2014, sudah mendirikan agensi perjalanan yang ia beri nama Mainterus. “Aku pengen banget buat bisnis wisata yang bisa bermanfaat dalam sektor ekonomi, tapi tidak lupa untuk menjaga kelestarian alamnya,” ceritanya tentang Mainterus. Ia hobi travelling sejak mengenyam bangku sekolah menengah atas. Kalau soal anak gunung atau anak pantai, ia tak bisa memilih karena menurutnya setiap tempat punya keunikan dan keindahannya sendiri-sendiri. Agensi perjalanannya pun berani memasang harga rendah karena Adi sudah merasakan sendiri kendala untuk pergi travelling adalah soal keuangan.

Jadi, travelling adalah kebutuhan khususnya bagi generasi milenial untuk melepas penat. Sayangnya penat tak akan pernah pergi sehingga travelling jadi penting sebagai obat mujarab. Selain obat mujarab dari lelahnya berutinitas, kebutuhan akan pencarian pengalaman hidup jadi hal esensi saat hal-hal materi tidak lagi sanggup memenuhi kebutuhan generasi ini.

Menurut Roberta Esposito, Digital Marketing Lead Tourism Think Thank berpendapat bahwa ada empat karakteristik generasi milenial. Sebagaimana yang dilansir tirto.id, pertama generasi milenial mencari destinasi yang dapat memberikan pengalaman orisinil serta bersifat lokal. Kedua, generasi milenial sangat menghargai tantangan baru, lingkungan baru dan selalu mencari sesuatu yang berbeda sehingga menjadi sebuah pengalaman seumur hidup bagi mereka. Ketika, generasi milenial menyukai pilihan—khususnya saat memilih opsi terbuka yang disediakan penyedia layanan travelling yang sesuai dengan karakter personalnya. Keempat, generasi milenial merupakan generasi dengan tingkat keterlibatan online yang tinggi sehingga penginapan yang indah secara visual dan nyaman atau sesuai dengan keinginan mereka akan mendapat paparan atau promosi gratis di akun mereka.

Infografis: Tyas Hanina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here