BANSER-ANSOR MENEMBUS BATAS

0
19

Gagah, kuat dan sehat fisiknya. Tidak takut panas, hujan, badai dan segala bentuk mara bahaya. Bangga dengan pakaian kebesarannya, baju loreng mirip tentara, selalu dikenakannya. Bedanya rambutnya tidak dicukur pendek seperti tentara bahkan ada yang dibiarkan memanjang sampai ke pundaknya. Itulah profil fisik Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Tiap ada acara pengajian dan kegiatan-kegiatan keluarga besar NU tanpa diminta melakukan pengamanan. Bahkan menjaga gereja, klenteng, wihara, dan pura. Anda ingat Pahlawan Banser Riyanto yang gugur di Mojokerto ketika bertugas di malam natal kala itu. Itulah bentuk komitmen kebangsaan dan kamanusiaan Banser dan Ansor kendatipun dikalangan muslim masih mempertentangkannya.

Hebatnya tanpa bayaran sepeserpun. Karena bagi mereka bisa menjaga dan melakukan pengamanan adalah tugas mulia bagian dari dawuh ulama yang harus ditaati dan dijunjung tinggi. Menghormati guru dan kyai melebihi lainnya tentu setelah kedua orang tuanya. Inilah komitmen keagamaan, moral dan akhlak Banser-Ansor yang diajarkan dalam kitab ta’limul muta’allim. Relasi ta’lim ini yang menjadi watak dasar dan pondasi pola hubungan santri-kyai, murid dengan gurunya dan yang muda dengan orang yang lebih tua.

Ditengah pro kontra, nyinyiran, hinaan, makian di media sosial terhadap Gerakan Pemuda Ansor dan Bansernya, dihati para bijak bestari negeri ini, warga yang masih bersih melihat kasunyatan dan para cerdik pandai yang masih jernih hati dan pikirannya tentu akan melihat bahwa pikiran dan gerakan banser-Ansor telah menembus batas. Batas kepicikan, batas ritual, batas kesempitan dan ketertutupan, melesat maju dengan perjuangan kemanusiaan.

Ketika saudaranya yang muslim masih mempertentangkan berbagai atribut pakaian muslimah, jilbab atau cadar, jenggot dan celana congkrang, masih ribut dengan ayat-ayat kepemimpinan yang melahirkan demo berjilid-jilid, dan ribut dengan hal-hal kosa kata arab yang di Indonesiakan. Banser-Ansor keluar dari perdebatan itu, lebih konsen melakukan kerja-kerja konkrit kemasyarakatan dan kemanusiaan. Menolong korban banjir, tanah longsor, kebakaran dan bencana alam lainnya.

Bagi Banser-Ansor sandarannya adalah ulama sang waratsatul anbiya. Cacian dan makian dianggapnya sebagai jamu yang akan menguatkan, karena sadar sejak tahun 1934 berdiri tidak akan pernah sepi dari cacian dan makian serta penghinaan. Tapi sejarah telah mencatat bahwa kiprah dan perannya betul-betul dirasakan manfaatnya untuk masyarakat, bangsa dan negara. Banser-Ansor bukan organisasi kemarin sore apalagi lahir karena demonstrasi tapi lahir karena kebutuhan sejarah, yang ditunggu oleh rakyat untuk mengejawantahkan ayat-ayat Tuhan baik yang qauliyah maupun kauniyah.

Banser-Ansor adalah komunitas terdidik dan terlatih dengan baik, dari mulai Diklatsar/PKD, Susbalan/PKL hingga Susbanpim/Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) yang dibimbing oleh para kyai, ustadz dan muharik serta aktivis yang sudah paripurna memahami Islam, ahlussunnah waljamaah, nilai kebangsaan dan keanusiaan. Instruktur yang mencerdaskan, mencerahkan dan menyejukkan bukan instruktur tukang kompor yang mengobok-obok naluri keagamaan untuk menyerang orang lain dan menganggap yang lain itu salah, sesat bahkan kafir (takfiri).

Saya adalah bagian kecil dari sekian juta orang yang bersaksi bahwa Banser-Ansor adalah telah menembus batas demi agama, nusa dan bangsa bahkan warga dunia. Karenanya pengkaderan dilakukan terus-menerus oleh GP Ansor. Awal Desember Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor kembali akan menggelar Pelatihan Kepemimpian Nasional (PKN) dan Latihan Instruktur2 untuk para instruktur nasional Ansor.

Banserku, teruslah berjuang demi bangsa dan negara dan juga panggilan kemanusiaan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, para sahabat, tabiin-tabiin, para ulama di nusantara. Menjaga Indonesia sama pentingnya menjaga agama.

Pamulang, 26 November 2017

Ruchman Basori
Ketua Bidang Kaderisasi PP Ansor 2015-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here