Perjuangan Sosial Ruang Spasial

1
510
Sebuah bentuk perlawanan warga Kebon Jeruk, Bandung, Jawa Barat.

Ruangan yang disebut sebagai kantor itu berukuran kecil. Meja kayu di sisi dalam ruangan penuh dengan berkas-berkas yang menumpuk. Dinding tripleks berwarna hijau yang terlihat rapuh tersebut kembali mendengar cerita mengenai sengketa penggusuran lahan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) terhadap warga RW 02, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, yang dikisahkan Ketua RW 02 Arman Saleh.

Pada 26 Juli 2016, warga terpaksa meninggalkan rumahnya akibat penggusuran yang dilakukan PT. KAI. Alhasil, 63 keluarga yang terdapat di wilayah tersebut tidak memiliki tempat bernaung. Semua dilakukan tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya. Warga pun tidak tahu-menahu mengenai adanya penggusuran. Gantinya, PT.KAI menyediakan tempat di Rusunawa Rancacili dan Sadang Seang sebagai tempat sementara bagi warga.

“Di sana, kita diberi tempat di lantai lima. Itu pun sebenarnya tidak layak pakai, dan warga juga sulit untuk menempuh perjalanan menuju ke sana jika tidak memiliki kendaraan pribadi, seperti motor,” jelas Arman.

Namun, pada 31 Mei 2017, lahan seluas kurang lebih 1.800 meter persegi itu kembali menjadi milik warga RW 02 setelah Pengadilan Negeri Bandung menyatakan warga memenangkan gugatan dan PT KAI diiwajibkan membayar biaya ganti rugi kepda warga terdampak sejumlah 375 juta rupiah. Namun, hingga kini jumlah tersebut belum terbayarkan karena PT KAI sedang menempuh proses banding.

Kini, dengan dibantu mahasiswa, warga membangun kembali reruntuhan rumah mereka. Tidak hanya itu, warga juga akan membuat musholla dan aula. Begitu juga dengan pujasera(warung kolektif) yang sudah terbangun lahan penggusuran.
“Dari mulai bahan material, beras, hampir semua diberikan. Mereka juga ikut gotong-royong ikut membantu warga membangun kembali daerah ini,” ujar laki-laki paruh baya ini.

Warung Kolektif

Korban penggusuran yang berada di areal Kebon Jeruk saat ini sudah mendirikan kembali rumah dan warung yang sebelumnya digusur oleh petugas PT. KAI. Salah satu warung yang didirikan adalah Warung Kolektif bermodel pujasera, di mana setiap orang boleh berdagang di sini. Diresmikan Minggu, 5 November 2017, pengerjaannya sebenarnya belum tuntas. Bahkan sampai tulisan ini dibuat belum juga rampung seratus persen. Terlihat Maman, pedagang di Warung Kolektif, sibuk megurusi bangku pengunjug yang sedang ia buat. Tidak terlihat warung lain selain miliknya di pujasera baru ini. Meskipun begitu, warung ini biasanya selalu ramai oleh pengunjung, ungkap Arman.

Maman juga termasuk kepada warga yang terdampak penggusuran di Kebon Jeruk. Ia menyatakan, bahwa pendirian bangunan di areal tersebut, atas dasar sumbangsih dana dari mahasiswa dan para advokat yang peduli pada warga korban penggusuran. Bangunan-bangunan tersebut berdiri tepat di tempat bangunan yang dahulu mereka tempati. Lahan yang menjadi tempat bagi warga mencari makan tersebut saat ini adalah tanah yang bisa dibilang tanah bebas. Tidak menutup kemungkinan bagi para warga lain untuk berjualan di areal tersebut, karena masih ada tempat-tempat di areal tersebut yang kosong. Akan tetapi, hal tersebut tidak berjalan baik, karena lagi-lagi mereka mengklaim bahwa PT. KAI melaporkan mereka lagi atas dasar menyerobot lahan orang lain.

Dengan latar belakang yang sedemikian rupa, warung kolektif secara tidak langsung menjadi tempat bagi orang-orang yang melawan kuasa untuk berkumpul. Warung kolektif menjadi tempat masyarakat lokal dan pihak yang bersimpati untuk memperkuat identitas dan pemikiran mereka dalam melawan relasi kuasa yang terkadang datang. Konsepnya unik. Sebagai tempat makan yang kerap menjadi tempat berkumpul ini, orang yang berkumpul bisa lebih leluasa mengeluarkan pendapat. Konsolidasi mereka dibangun dari sebuah ruang spasial yang mereka bentuk sendiri. Dari mereka, untuk mereka dan oleh mereka.

Lama kelamaan, tidak hanya masyarakat lokal dan masyarkat yang bersimpati. Masyarakat umum yang tidak mengetahui latar belakang dan datang hanya karena untuk makan ataupun ‘ngopi’ akan masuk pada ruang spasial warga Kebon Jeruk. Mereka yang awalnya tak mengetahui lama kelamaan akan mengetahui bahwa warung kolektif ini bukan sekedar tempat makan, melainkan usaha untuk menguatkan memori koletif sebuah eksistensi sosial warga Kebon Jeruk.

Nyatanya, kegiatan yang dilakukan oleh warga Kebon Jeruk dengan memanfaatkan memori kolektif bukanlah sebagai hal yang baru lagi. Hal serupa setidaknya pernah dilakukan juga oleh warga kampung Pulosari saat dihadapakan dengan penggusuran. Saat itu Kampung Pulosari merupakan salah satu daerah yang menjadi titik “upgrading slum”, sebuah program yang dicangankan oleh World Bank dan bekerja sama dengan Pemerintah Bandung dalam menyelesaikan permasalahan kampung kumuh. Dalam menghadapi persoalan tersebut, warga Pulosari bekerja sama dengan Bandung Big Heart untuk menghidupakan memori kolektif dan menunjukkannya kepada pemerintah.

Saat itu warga Pulosari mengadakan berbagai kegiatan seni publik dan kegiatan lainnya. Namun yang membedakannya adalah tidak ada pihak eksternal dalam kegiatan tersebut. Semua pengisi acaranya adalah warga Pulosari. Hal ini menjadi menarik karena dengan cara seperti ini, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa setiap masyarakat menghasilan ruangnya sendiri dan mereka punya nilai tawar yang belum tentu dipunyai oleh masyarakat lain. Sehingga ini menunjukkan eksistensi warga Pulosari dihadapan pemerintah.

Terdapat kesamaan antara warga Kebon Jeruk dan warga Pulosari, yaitu mereka memanfaatkan memori kolektif dalam menyatakan eksistensi sosialnya dihadapan para penguasa. Mereka tidak sekedar melakukan demo dan menyuarakan aspirasinya. Namun mereka juga melakukan sebuah gerakan yang didasari atas kemandiriannya dalam upayanya menunjukkan sudut pandang keseharian yang komunal dengan keadaban versinya sendiri untuk memiliki hak hidup di (kampung) kota Bandung ini dengan adil baik secara spasial maupun sosial.

Setiap “eksistensi sosial” bercita-cita untuk menjadi atau menyatakan diri sebagai individu maupun komunitas untuk menjadi nyata dalam skala ruang tertentu (di kota). Setidaknya itulah arti perjuangan warung kolektif dalam memperjuangkan hak warga Kebon Jeruk

Mulia R. F., Achmad N. J., Hikma D. H., Marsha A. F., Dira H.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here